Selasa, 20 Mei 2014

[RANDOM] Arisan

Hellooo...(^o^)/

Waktu saya masih kecil, ibu saya kebetulan aktif di organisasi istri pegawai negeri, mungkin ada yang ingat dengan organisasi bernama Dharma Wanita.  Kalau nggak salah ingat, sekali dalam sebulan ibu saya pasti pamit pergi dan pulangnya membawakan kue-kue kecil dalam kardus atau kadang nasi dan lauknya. Ibu ke mana sih? Ibu selalu menjawab ada arisan Dharma Wanita di kantor bapak.  Selain arisan di kantor, dulu ibu juga mengikuti arisan RT di komplek. Bahkan sampai saat ini, meskipun ibu sudah pindah rumah tapi ibu tetap ikut arisan di komplek rumah yang lama. Katanya, hitung-hitung silaturrahim sebulan sekali.

Tentu saja, waktu itu saya belum paham. Ngapain aja sih, kalau arisan? Cuma ngumpul-ngumpul aja kan ya? Sambil makan kue atau kalau tuan rumahnya lagi baik, pakai acara makan berat. Yang pasti saya senang kalau ibu pergi arisan, karena itu tadi...dibawain kue. Yang nggak senangnya kalau ibu ternyata dapat giliran jadi tuan rumah, karena ikutan repot menyiapkan rumah dan makanannya. Nah, ketika itulah saya jadi tahu, sembari ngobrol...para ibu ini mengumpulkan uang dan mengocok nama, siapa yang mendapatkan uang yang dikumpulkan dan biasanya bulan depan akan menjadi tuan rumahnya.  Sampai situ, saya tetap belum mengerti apa enaknya ngumpulin uang terus nunggu nama kita keluar dari kocokan?


Baru ngerti kenapa pada senang ikut arisan ketika temen-temen satu unit kerja mengajak arisan. Anggotanya kurang lebih 10 orang, tiap kali habis gajian per orang setor 100 ribu, sekali narik arisan dapat 1 juta. Hahaha, waktu nama saya keluar itu rasanya senang banget. Senang karena tiba-tiba dapat tambahan uang. Padahal kalau dipikir-pikir ulang, arisan itu sama saja nabung. Toh uangnya akhirnya dipakai lagi buat setoran arisan bulan-bulan berikutnya, kecuali kalau sudah habis dipakai. Makanya waktu itu ada temen yang keberatan kalau namanya keluar di bulan-bulan pertama arisan diadakan. Katanya sama aja bohong... Waktu saya dapat arisan itu, uangnya saya pakai untuk apa ya? Hmmmm, kalau nggak salah buat nambahin koleksi komik dan cd musik. Sementara yang lain kebanyakan beli baju kerja yang baru~

Sekarang saya ikut arisan lagi. Kali ini arisan di komplek perumahan tempat saya tinggal. Awalnya saya malas ikut arisan di komplek, ditambah waktu itu juga masih ngantor, jadi jarang banget di rumah. Ketika sudah berhenti kerja, sering ketemu ibu tetangga saat belanja bareng di tukang sayur, ditanyain kenapa nggak ikut arisan dan berulang kali diajak gabung...akhirnya nyerah. Terus nyadar pentingnya ikut arisan di RT karena ngobrol-ngobrolnya juga ternyata tentang isu terakhir di komplek : ada program apa di PKK, ada berita apa dari kelurahan, atau ada demo tentang produk alat rumah tangga. Cuma satu kekurangannya, saya belum bisa nyambung dengan obrolan ibu-ibu anggota arisan. Hihihi, memang dasarnya saya ini nggak pinter ngobrol, ditambah dengan ibu-ibu komplek ini kebanyakan lebih tua dari saya XD. Ya sudah, akhirnya saya lebih sering jadi pendengar yang baik.


Berapa iuran arisan komplek saya? Nggak mahal, 50 ribu saja per orang. Anggotanya ada 48 orang, karena warga di RT saya paling banyak. Sekali narik nama, ada 4 nama yang keluar dan uang yang didapat adalah sejumlah 600 ribu. Jadi pas tuh, putaran arisannya selama 12 bulan. Selain uang arisan ada uang konsumsi dan uang kas PKK. Kalau dibandingkan dengan arisan sosialita Jakarta yang dibahas di Kompas.com, kelompok arisan komplek belum ada apa-apanya. Tadi pas baca artikel tersebut, saya cuma bisa ternganga. Kok ada...yang sekali ngumpulin uang arisan 100 juta, jadi sekali narik dapat 1 milyar karena yang ikutan ada 10 orang. Tempat kumpul arisannya juga bukan sekedar ngumpul di rumah lagi, melainkan di restoran/kafe mewah, ada juga yang arisannya di pesawat pribadi sambil jalan-jalan ke luar negeri.  Mereka juga sering menggunakan tema tertentu jika berkumpul.  Pokoknya luar biasa banget ~

Ada sisi negatifnya nggak sih, arisan itu? Sampai saat ini saya belum ketemu sama jeleknya ikut arisan. Moga-moga sih, saya nggak ketemu. Buat saya, kalau terlalu banyak ikut kelompok arisan, baru efek negatifnya terasa. Terutama berkaitan dengan penyediaan dana per bulannya. Masa' iya, jatah uang sebulan cuma buat arisan doang :P. Soal gosip, menurut saya...kebanyakan dari ibu-ibu lebih suka berbagi cerita dengan kelompok yang lebih kecil dan sudah kenal lama. Jadi kalau kumpul di arisan saya jarang mendengar ada gosip. Positifnya, saya bisa nyicipin kue-kue atau masakan enak sang tuan rumah, bisa melihat demo panci dengan teknologi yang paling baru, dan nggak ketinggalan info mengenai kegiatan ibu-ibu komplek.  Kalaupun capek karena kebagian giliran jadi tuan rumah, rasa capeknya itu kebayar dengan pujian dari mereka untuk makanan yang enak dan habis.

Jadiiiii...adakah di antara teman pembaca yang bergabung dengan kelompok arisan? Entah arisan dengan teman sekantor, di komplek tempat tinggal, atau dengan kelompok sosialita di atas? Apa saja bolehlah, asal jangan sampai kebablasan karena terlalu banyak kelompoknya. Yang penting, dana arisannya jangan sampai mengganggu budget bulanan. Nggak lucu banget kalau jatah uang belanja berkurang karena harus bayar arisan ini dan itu. Bagi-bagi ceritanya ya...

Salam,

Dina










  



3 komentar:

  1. Hiks...gy ngrasaian negatifnya, mba Din. Awalnya saya ikut cma 1, trs ada yg cancel pas pertengahan saya pikir gpp deh saya nerusin. X aja ntar ada yg keluar duluan. Eh ga taunya 2-2 nya keluar paling bontot. Lumayan kembang kempis jadinya. Hehehe,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waaaah...keluar terakhir itu, ada enak dan nggaknya XD. Hahaha, saya nggak berani ikutan 2, agak berat setorannya. Ini yang di komplek udah mau masuk putaran baru nih ~
      Gabung lagi...hehehe~

      Hapus
  2. Saya baru pindah 2 bulanan di kontrakan yg sekarang ini, belom2 udah diomongin yg miring2 karna ga arisan mba..

    Sbenernya males karna seringkali jadi lahan gosip :(

    Apalagi belom2 udh diomongin, ya makin males lah saya.. smoga yg baca komen komen saya ini tercerahkan dan bisa lebih merangkul warganya dengan cara yang positif

    BalasHapus

Terima kasih sudah berkunjung dan membaca cerita ini.
Sila berkomentar tentang tulisan saya di sini. Saya lebih menghargai jika komentar yang diberikan sesuai dengan isi posting blog dan tidak ANONIM. Kalau ada alamat blog, cantumkan saja nanti saya main ke sana :)