Hellooo...(^o^)/
Waktu saya masih kecil, ibu saya kebetulan aktif di organisasi istri pegawai negeri, mungkin ada yang ingat dengan organisasi bernama Dharma Wanita. Kalau nggak salah ingat, sekali dalam sebulan ibu saya pasti pamit pergi dan pulangnya membawakan kue-kue kecil dalam kardus atau kadang nasi dan lauknya. Ibu ke mana sih? Ibu selalu menjawab ada arisan Dharma Wanita di kantor bapak. Selain arisan di kantor, dulu ibu juga mengikuti arisan RT di komplek. Bahkan sampai saat ini, meskipun ibu sudah pindah rumah tapi ibu tetap ikut arisan di komplek rumah yang lama. Katanya, hitung-hitung silaturrahim sebulan sekali.
Tentu saja, waktu itu saya belum paham. Ngapain aja sih, kalau arisan? Cuma ngumpul-ngumpul aja kan ya? Sambil makan kue atau kalau tuan rumahnya lagi baik, pakai acara makan berat. Yang pasti saya senang kalau ibu pergi arisan, karena itu tadi...dibawain kue. Yang nggak senangnya kalau ibu ternyata dapat giliran jadi tuan rumah, karena ikutan repot menyiapkan rumah dan makanannya. Nah, ketika itulah saya jadi tahu, sembari ngobrol...para ibu ini mengumpulkan uang dan mengocok nama, siapa yang mendapatkan uang yang dikumpulkan dan biasanya bulan depan akan menjadi tuan rumahnya. Sampai situ, saya tetap belum mengerti apa enaknya ngumpulin uang terus nunggu nama kita keluar dari kocokan?