Tampilkan postingan dengan label iduladha. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label iduladha. Tampilkan semua postingan

Senin, 14 Oktober 2013

[PERSONAL] Malam Idul Adha 10 Dzulhijjah 1434 H.

Hai... Halo...^____^

Apa kabar temans semua? Sudah lama sekali saya tidak menyapa temans lewat cerita baru di sini. Malam takbiran Idul Adha, ke mana saja? Ada yang ikut takbiran di sekitaran Sudirman - Thamrin? Atau mungkin lagi memilih-milih hewan kurban yang besok dan 3 hari setelahnya, akan disembelih? Atau seperti saya, posting cerita sambil nonton City Hunter di Animax?

Idul Adha kali ini saya dan suamik nggak makan ketupat dan teman akrabnya. Hihihi...nasib masih nebeng sama ibuk untuk urusan perketupatan. Ibuknya ke mana? Ibuk dan bapak saya pulang ke kampung, Pekalongan. Tadinya saya mau ikut juga, ternyata suamik nggak bisa tambah cuti. Ya masa' mau ninggal suamik sendirian aja, kasihan. Akhirnya nggak jadi ikutan pulang kampung. Eee, kalau diingat-ingat 2 lebaran tahun ini, saya nggak makan ketupat masakannya ibuk T_T. Ya wis nggak apa-apa :)

Lalu sore tadi seorang teman menunjukkan sebuah blog, yang ditulis wirausahawan muda dari Jogja. Blognya mas Saptu, yang salah satu ceritanya membuat saya mewek. Coba mampir dan baca cerita di blog Jadi Manusia Apa Adanya Sadja...! Saya benar-benar merinding membaca cerita tersebut, sekaligus merasa tertampar. Banyak sekali yang sudah saya dapatkan, tetapi belum atau tidak saya syukuri. Atau mungkin tidak sabar karena saya tidak kunjung diberi buah hati, tapi kembali lagi...pasti ada yang belum saya lakukan dengan sepenuh hati dan ikhlas. Subhanalloh... Semoga saya masih sempat menjadi manusia yang selalu bersyukur, bersyukur dan bersyukur. Amiiiin...

Bersyukur juga karena tahun ini kami masih bisa berkurban, meskipun jumlahnya tidak seperti tahun lalu. Tetap optimis, tahun depan bisa lebih dari tahun ini. Juga semoga kurban yang kami salurkan lewat Tebar Hewan Kurban Dompet Dhuafa Republika ini sampai kepada yang berhak menerima, yang berdomisili jauh di sana, di mana daging adalah makanan mewah, sehingga tidak bisa dikonsumsi sesuka hati. Ah...malam ini saya lewatkan dengan leleran air mata di pipi saya.

Selamat Idul Adha 10 Dzulhijjah 1434 H. Semoga amal kurban kita semua diterima Alloh SWT. Yang besok mengambil jatah kurbannya, selamat menikmati bakar-bakar sate kambing dan sapi, atau gule mungkin :D.



Salam,

Dina

Rabu, 17 November 2010

10 Dzulhijah 1431 H di 17 November 2010 M

Masih meneruskan cerita tentang hari raya Idul Adha, kali ini yang versi resmi pemerintah Indonesia. Pastinya kebanyakan umat Muslim di Indonesia melakukan sholat ied dan menyembelih qurban pada hari ini.

Hari ini status teman-teman di FB kebanyakan tentang menu kuliner yang tentu saja berhubungan dengan daging qurban. Seperti telah diketahui, yang berqurban bisa meminta sebagian kecil dari daging tersebut untuk dimasak sendiri dan sisanya untuk dibagikan kepada yang lebih membutuhkan. Jadilah menu kuliner hari ini sate, gulai, atau tongseng kambing untuk yang berqurban kambing. Atau rendang untuk yang berqurban sapi. Kebetulan saya bukan penggemar daging kambing, sate pun tidak bisa makan banyak karena sering pusing habis makan sate. Jadilah di rumah tidak bakar-bakar sate...

Saya sendiri tahun ini, alhamdulillaah masih diberikan rezeki oleh Alloh SWT untuk disisihkan dan dibelikan hewan qurban. Tahun ini saya memilih untuk berqurban di daerah Wonogiri, Jawa Tengah. Menurut informasi, ada sebagian daerah yang penduduknya jarang mengkonsumsi daging. Insya Alloh, qurban saya tahun ini bisa berguna bagi yang membutuhkan. Amiiin YRA.

Berbicara tentang qurban, tadi pagi ada status teman yang sebenarnya menggelitik untuk dikomen tapi tidak saya lakukan. Begini, kalau orang kaya berqurban itu biasa, kalau orang miskin yang berqurban itu luar biasa, tapi ada ga ya?
Saya jawab di sini : ada. Saya dapat cerita dari ustad saya, ada seorang ibu yang kehidupannya bisa dikatakan miskin. Setiap tahun selalu menerima daging qurban, sampai pada suatu hari ibu ini bertekad dia tidak ingin selalu menerima daging qurban, dia ingin juga bisa berqurban dan daging qurban darinya berguna bagi orang yang lebih miskin dari dia. Dengan tekad kuat ini, si ibu menyisihkan sebagian pendapatannya setiap hari, dimasukkan ke dalam kaleng yang tidak pernah dibuka selama berbulan-bulan. Berapapun uang yang tersisa selalu dimasukkan dalam kaleng tersebut.

Seminggu menjelang Idul Adha tahun lalu, si ibu datang ke ustad saya dan berkata,"Pak Ustad, saya mau berqurban tahun ini. Ini kaleng tabungan saya, tolong dihitung apakah cukup untuk membeli seekor kambing?". Kata pak Ustad, kaleng itu berat luar biasa, karena penasaran pak Ustad bertanya,"Ini tabungan berapa tahun bu?". Si ibu menjawab,"Saya lupa ustad, ada kali 4 taon".

Akhirnya dibukalah kaleng tersebut, isinya campuran antara uang logam dan kertas yang masing-masing nilainya tidak lebih dari Rp.5000,-. Lalu pak Ustad dan si ibu menghitung uang tersebut, dan jumlahnya cukup untuk membeli 1 ekor kambing. "Alhamdulillaah, tolong belikan saya 1 ekor kambing untuk qurban, pak Ustad. Sisanya tolong dimasukkan ke kotak infaq musholla", begitu kata si ibu. Ustad saya langsung menitikkan air mata mendengar kata-kata si ibu, perjuangannya menabung untuk berqurban benar-benar luar biasa. Meskipun sehari-hari sudah berat tapi keinginan berqurban terus bergema di hati dan pikiran si ibu, sehingga terus berusaha menabung untuk berqurban. Kami yang mendengar cerita tersebut ikut menangis, ya Alloh...kami ingin mencontoh ibu ini.

Jadi semua kembali pada keikhlasan untuk berqurban. Baik kaya atau miskin, semua kembali apakah ikhlas untuk berqurban? Wallahualam...

Selasa, 16 November 2010

10 Dzulhijah 1431 H di 16 November 2010 M

Setelah gojag-gajeg ga jelas mau ikut sholat ied di tanggal berapa, akhirnya done : ikut sholat dan berhari raya pada hari ini.

Kata khatib sewaktu shoiat tadi, tidak seharusnya hari raya idul adha tahun ini pada 2 tanggal. Semuanya sudah jelas, jamaah calon haji menjalankan ibadah wukuf di padang Arofah pada tanggal 9 Dzulhijah yang jatuh di tanggal 15 November, esok harinya pasti tanggal 10 Dzulhijah. Wallahualam...mau ikut tanggal yang ditentukan oleh pemerintah Arab Saudi silakan, mau ikut tanggal pemerintah Indonesia ya silakan.

Berhari raya pada hari ini artinya masih harus masuk kerja, jadilah saya sholat dengan memakai pakaian kerja, setelan rapi. Pulang sholat tidak bisa ikut makan ketupat bersama keluarga, malah langsung on the way ke kantor.
Ini belum seberapa ya, dibanding yang harus merayakan di negeri orang di mana umat Islam menjadi minoritas. Tidak ada penentuan tanggal hari raya oleh pemerintah, tidak ada hari libur pada hari raya tersebut, yang akhirnya harus izin cuti dari pekerjaan, tapi semangat untuk tetap merayakannya.

Tetap semangat juga untuk mengikuti tauladan nabi Ibrahim AS, yang dengan penuh keikhlasan menjalankan perintah Alloh SWT untuk mengurbankan putra yang disayanginya yaitu nabi Ismail AS. Mengikhlaskan sebagian pendapatan kita untuk membeli hewan qurban, menyembelihnya, dan membagikan dagingnya kepada yang membutuhkan. Untuk pengurbanan tersebut, balasan nikmat dan barokah datangnya dari Alloh SWT semata. Amiiin YRA...