Tampilkan postingan dengan label lebaran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label lebaran. Tampilkan semua postingan

Jumat, 29 Agustus 2014

[JALAN-JALAN] Hari 4 - 5 : Probolinggo - Surabaya - Semarang

Hellooo...\( ˆoˆ)/\(ˆoˆ )/

Bagian terakhir dari cerita liburan Lebaran. Kali ini karena nggak mampir ke suatu tempat tertentu, foto-fotonya nggak banyak. Semalam menginap di kota Probolinggo, karena sudah disuguh makan di rumah adik ipar, malam itu kami tidak mencari makan lagi. Sudah super kenyang. Pagi harinya, seperti biasa jam 05.30 langsung check-out dari hotel Lava-lava untuk menuju kota Surabaya.

Surabaya...ooo...Surabaya...

Sengaja nggak sarapan di hotel karena kali ini kami mau mampir di Rawon Nguling. Saya cuma bisa bilang, akhirnya bisa nyobain yang namanya rawon Nguling juga~ Iya loh, dari dulu selalu bertanya-tanya, kayak apa sih rawonnya? Soale kalau dengar ceritanya suami, kayaknya itu rawon enak banget. Sampai di warungnya jam 06.30, itu warung udah rame. Padahal katanya, jam mulai buka adalah jam 07.00. Yeaaay, masih dapat tempat parkir dan meja. Bapak dan saya pesan nasi rawon, sementara suami pesan nasi krengsengan. Minumnya kami semua pesan kopi susu. Lauk tambahan lain disediakan di meja ketika pesanan diantar.


Rabu, 27 Agustus 2014

[JALAN-JALAN] Hari ke 2 dan 3 : Ke Bromo

Note : maaf kalau lemot, banyak foto 


Hellooo...\( ˆoˆ)/\(ˆoˆ )/

Hah? Udah tanggal 27 aja? Sementara entri blog bulan Agustus masih 2 postingan? Hoaaaa...betapa tidak lancar kamu belajar menulis 'nak... Hihihi, saya akui akhir-akhir ini saya terdistraksi oleh hal lain. Well, they're made a mess in my life. What kind of mess? A beautiful mess, I guess. 

Apaan sik, bikin penasaran aja? Hahaha, I'll keep that mess in my mind. Sorry.

Jadi, melanjutkan perjalanan saya selama liburan Lebaran kemarin, hari ke 2 adalah perjalanan menuju ke pegunungan Tengger (gunung Bromo) untuk melihat matahari terbit, dan hari ke 3 adalah perjalanan dari Bromo ke kampung halaman adik ipar saya di Probolinggo. Kali ini fotonya nggak banyak. Oh, karena perjalanan kali ini agak panjang, saya sertakan gambar peta Jawa Timur.



Selasa, 12 Agustus 2014

[JALAN-JALAN] Hari 1 : Semarang - Boyolali - Solo - Sawangan - Magetan - Ponorogo

Note : maaf kalau lemot, banyak foto

Hellooo...\( ˆoˆ)/\(ˆoˆ )/

Liburan lebaran tahun ini lumayan panjang kan ya? Seminggu, hahaha...kalau ngendon aja di rumah bisa lumutan dan jamuran kayaknya. Maka dari itu, dari 3 bulan sebelum liburan lebaran bapak mertua saya bilang sama suami, buat rencana jalan-jalan deh. Bapak kan udah lama nggak bepergian bareng suami, sekalian ajak saya muter-muter gitu. Akhirnya kita bikin rencana buat ngider ke Jawa Timur. Saya sih, seneng-seneng aja...karena sampai kemarin ke Jawa Timur itu hanya main di Surabaya dan Probolinggo saja, belum pernah ke kota atau kabupaten lain. Berhubung perjalanannya cukup panjang dan tentu saja harus menginap di beberapa kota, sejak 2 bulan sebelumnya kami sudah memesan kamar hotel via Agoda. Milih hotelnya berdasar review di Agoda saja, moga-moga nggak mengecewakan ~

Kami mulai jalan di hari kedua lebaran. Berangkat pagi-pagi dari rumah, jam 05.30 kalau nggak salah. Hihihi, mengurangi resiko terkena macet. Kalau berangkatnya lebih siang, biasanya akan kena macet. Pergi jalan sama bapak itu, artinya sekalian sambil cari makan enak yang banyak direkomendasi orang-orang di internet. Hahaha...udah disiapkan daftarnya di GPS beliau, di kota apa mau mampir ke mana aja. 


Kamis, 07 Agustus 2014

Mudik 20 Jam

Hellooo...\( ˆoˆ)/\(ˆoˆ )/

Apa kabaaar? Pasti teman semua sudah kembali ke kesibukan masing-masing ya? Atau masih ada yang masih menikmati liburannya? Hihihi, siapa tahu...ada yang harus masuk kerja ketika libur lebaran kemarin, dan sekarang baru dapat giliran libur. Apapun itu, selamat menikmati apa yang sudah diberikan kepada kita.

Bicara tentang menikmati, jadi ingat perjalanan saya pulang ke dan balik dari kampung, di mana tahun ini rasanya adalah perjalanan mudik dan balik yang makan waktu lebih lama dari tahun-tahun yang lalu. Mungkin karena libur lebaran kali ini waktunya cukup lama, banyak orang yang memilih untuk jalan-jalan ke luar kota dengan menggunakan kendaraan pribadi. Kendaraan yang keluar Jakarta lebih banyak, ditambah dengan kondisi jalur pantai utara (Pantura) yang sempat terputus dengan amblesnya jembatan di kali Comal, kabupaten Pemalang. Lengkap sudah...dan akhirnya, mari menikmati perjalanan menuju kampung halaman dan sebaliknya.

Kamis, 15 Agustus 2013

[MAKAN-MAKAN] Jajan Lebaran 2013

Halo temans ^____^

Eh eh, semoga temans nggak bosan dengan cerita saya seputar lebaran tahun ini yak. Hahaha, banyak aja yang mau diceritain. Semua berkelebatan di otak, mau cerita ini...mau cerita itu..tapi tenang aja, ini cerita terakhir tentang lebaran 2013 ;). Please, bear with me...

Kemarin pas bulan puasa, berat badan saya turun. Nggak banyak memang, 4 kg :D. Biasanya ada di angka 65 kg, pas mau lebaran itu jadi 61 kg. Etapi sekarang udah naik lagi kayaknya >,<. Kebanyakan jajan selama pulang kampung kemarin. Jadi ya, kemarin itu saya jajan makanan di bawah ini...

Nasi Goreng Pak Sabar



Menu spesialnya adalah nasi goreng babat. Ini racun dari suamik, katanya nasi goreng babat pak Sabar ini enak sangat. Sejak menikah, suamik janji mau ajak saya jajan di sini tapi nggak kelakon terus. Sekalinya ke Semarang pas libur lebaran, jadi warung pak Sabar ini nggak buka. Untung kali ini warungnya masih buka, akhirnya kesampean juga makan di sini.

Saya pesan nasi goreng babat, suamik dan bapak pesan nasi goreng babat telur. Untuk minuman, semua pesan jeruk hangat. Seperti apa penampakan nasi goreng babat ini?


Hahaha...standar nasi goreng masakan Jawa Tengah, bukan nasi goreng masakan Cina. Bumbunya pakai terasi (yang sebenarnya saya nggak bisa makan), dan juga kecap. Hmmm, karena saya pikir ini masakan daerah Pantura yang identik dengan pedas, saya pesannya sedang saja. Ternyataaaa...nggak pedas sama sekali >,<, malah cenderung manis. Ihiks, ternyata pak Sabar ini orang Solo, yang suka manis-manis di masakannya, bilang sedang jadinya manis. Kata bapak, kalau beli lagi harus pesan kecapnya jangan banyak-banyak. Noted :).

Untungnya nasi goreng babat ini emang enak, hihihi...babatnya empuk nggak alot. Yang nggak ada hanya irisan timun atau tomat sebagai garnish, padahal biasanya ada. Belum kenyang dengan nasi goreng, penasaran pengin cicip tahu kopyok telur. Pesan 1 porsi untuk dimakan berdua suamik, kalau pesan 2 khawatir nggak habis. Ini dia, tahu kopyok telur...


Intinya sik, telur dadar gitu :D. Cuma ada tambahan irisan tahu dan daun bawang, dimakan dengan saus kacang+kecap+bawang putih, dengan garnish irisan kol dan tauge setengah matang. Saya nggak begitu suka :(, suamik suka-suka aja sik :D. Dealnya paro-paroan, tapi saya cuma bisa makan seperempatnya aja. Lidah saya nggak cocok sama tahu telur kopyok ini. Ada beberapa menu lain sik, kapan-kapan cobain lagi...hihihi.

Warung nasi goreng pak Sabar ini ada di jalan Depok, kota Semarang. Jangan tanya saya jalan itu di sebelah mana ya, saya ini buta kota Semarang. Cuma ngerti rumah bapak, Simpang Lima, Erlangga, dan Pandanaran thok...

Nasi Pindang Kudus dan Soto Daging Jl Gajah Mada
Lebaran hari kedua, mau masak bingung, akhirnya keluar rumah cari sarapan. Banyak warung makan yang belum buka :(. Putar-putar akhirnya ke Jalan Gajah Mada, dan nemu warung nasi pindang kudus dan soto daging ini.




Nasi pindang ini nasi dan daging yang disiram dengan kuah pindang, ditambah dengan daun melinjo. Bisa dimakan dengan tambahan lauk seperti telur, paru atau babat. Saya memilih telur sebagai tambahan lauk. Rasa nasi pindang di warung ini enak tapi porsinya sedikit banget. Buat saya aja kurang, apalagi buat suamik dan bapak :D. Akhirnya kami tambah dengan soto daging, hohoho...




Rasa soto dagingnya mengecewakan karena hambar, tidak ada rasa gurih atau asin sama sekali. Entah mas pelayannya buru-buru atau lupa, sepertinya tidak memasukkan garam ke racikan sotonya :D. Hahaha, yang bikin sakit hati juga adalah ketika membayar. Mungkin karena masih lebaran hari kedua ya, harga yang dipatok untuk pembeli lumayan mahal. Jadi tambah kelihatan mahal dan nggak cucok karena kecewa dengan rasa sotonya. Moga-moga kalau nggak lebaran nggak semahal ini ya...

Warung Sate Sapi Pak Kempleng, Ungaran 
Nggak terasa, putar-putar di Kabupaten Semarang dan sekitarnya...perut menjadi lapar dan kepala sedikit pusing. Mampir makan di warung sate sapi Pak Kempleng di Ungaran. Fotonya saya ambil dari google ya...

sumber : http://kuliner.panduanwisata.com

Kata bapak, ukuran satenya besar dan kalau pesan 1 orang 1 porsi, pasti kebanyakan. Kami pesan 2 porsi sate dan 1 porsi gule sapi untuk bertiga. Lalu ternyata, sate yang datang ukurannya lebih kecil :). Mungkin karena harga daging sapi yang lagi mahal, jadi menyesuaikan ukuran supaya tidak harus menaikkan harga terlalu banyak *sok tau*. Aslinya sate dicocol dengan saus kacang, tapi karena saya nggak makan kacang, saya minta kecap. Jadi kayak sate kambing, dicocol dengan kecap lombok bawang. Rasa sate dan gulenya mantaaap, tidak mengecewakan. Rrrrr, apa karena lapar ya? :D

Warung sate sapi Pak Kempleng ini gampang ditemukan, ada di kanan-kiri jalan raya Ungaran - Semarang. Semuanya ramai dikunjungi pelanggan, entah karena lebaran atau sehari-hari memang ramai ya? Hihihi...

Ayam Goreng Panas Bu Bengat, Gringsing, Batang 
Rumah makan yang ini ada di jalur Semarang - Pekalongan. Tepatnya di Gringsing, kabupaten Batang, beberapa saat sebelum memasuki daerah Alas Roban. Penasaran karena tiap lewat sini selalu ramai dengan pengunjung. Kami mampir makan di sini dalam perjalanan menuju Pekalongan. Untungnya karena sampai di tempat sudah jam 2 lewat, pengunjung yang makan sudah lumayan berkurang. Meskipun begitu, untuk mendapatkan meja dan makanannya, saya hampir berebutan dengan pengunjung lain :D.

Biasanya pengunjung akan dilayani di meja, artinya pesanan akan ditulis oleh pelayan tapi karena ramai, pengunjung langsung memesan makanan di jendela dapur.





Menunggu makanan agak lama karena ramai, akhirnya datang juga : 2 potong dada ayam goreng panas, 1 mangkuk sayur asem, 2 porsi nasi putih, lalapan dan sambalnya...


 

Hmmmm, entah kenapa saya merasa ada yang kurang. Dulu, saya pernah diajak makan di sini sama ibuk dan seingat saya rasa ayam gorengnya itu enak sekali. Garing dan gurih, tapi sekarang kok rasanya biasa saja. Apa karena dulu masih lidah anak kecil, atau memang rasa ayam gorengnya sudah berubah, atau memang karena ramai jadi semua serba terburu-buru? Musti cobain lagi di luar lebaran nih, sebagai pembanding. Sayur asemnya lebih mirip sop :D, nggak ada asem-asemnya sama sekali. Kalau disuruh milih, kayaknya enakan makan di Ayam Goreng Mbok Berek Ny Astuti :D

Wohoooo, itu tempat saya jajan lebaran tahun ini. Tahun besok harus beda tempat lagi yaaah...:D. Insya Alloh, jika ada rezeki dan umur, bisa main lagi ke Semarang.

Terima kasih sudah main ke sini dan membaca cerita ini :)

Salam,

Dina

Sabtu, 10 Agustus 2013

[RANDOM] Lebaran Hari Kedua, 9 Agustus 2013 (panjang dan banyak gambar)

Halo temans ^____^

Hyaaaa...kemarin lebaran hari pertama sudah ketemuan dooong, sama keluarga besarnya. Nah, lebaran hari kedua biasanya giliran sama teman atau cuma jalan-jalan keliling kota. Saya bilang sama bapak, kok pengin lihat komplek Candi Gedong Songo di Bandungan. Kata bapak, hayo jalan...tapi harus berangkat pagi, kalau nggak nanti ramai sekali, wong libur lebaran. Hahaha, niat berangkat pagi tinggal niat, akhirnya jalan dari rumah jam 9 juga. Soale muter-muter cari sarapan dulu, yang akhirnya sarapan di warung pindang kudus dan soto sapi.

Perjalanan ke Bandungan melewati kota Ungaran, kali ini nggak lewat jalan tol keluar di Ungaran, melainkan dari kota Semarang naik ke atas. Lalu belok kanan dan terus melewati jalanan yang mendaki ke arah Bandungan. Pemandangan kanan kiri jalan amat sangat menyejukkan mata. Di beberapa spot terlihat pemandangan kota Semarang dan Ungaran, cantik sekali. Sepertinya kalau naik ke Bandungan di malam hari, pemandangannya pasti lebih cantik.


Dengan letak desa yang ada di kaki Ungaran, banyak penduduk desa yang mengusahakan budidaya tanaman hias di pinggir jalan, yang tentunya untuk dijual.




Ambil foto dengan keadaan mobil berjalan, buka jendela lebar-lebar, hirup dalam-dalam udara segar yang masuk ke mobil, sambil jepret-jepret nggak karuan. Untung hasil fotonya lumayan bagus XD.

Tanaman di atas kalau sudah layak dijual, dibawa ke kios tanaman hias yang ada di sekitar tempat wisata Bandungan. Ikuti saja terus jalan naik ini, nanti sampai di tempat wisata Bandungan. Kalau nggak salah kios-kiosnya ada di dekat hotel Nugraha Wisata.




Pilih-pilih tanaman untuk dibawa pulang :)

Oh iya, di sekitar desa wisata Bandungan ini banyak juga yang menjual tahu serasi dan susu kedelai. Kedai-kedainya ada di pinggir jalan, sayangnya saya nggak mampir dan icip-icip tahu serasinya, karena jalanan penuh dengan wisatawan yang jalan kaki atau naik kendaraan, jadi mau parkir juga ribet. Hihihi, begini deh kalau ke tempat wisata saat liburan, fully loaded!

Melanjutkan perjalanan lagi, kali ini mendaki ke tempat yang lebih tinggi. Akhirnya sampai juga di komplek Candi Gedong Songo. Hohoho...karena sudah siang, sampai di tempat sekitar jam 10.30, maka mobil dan motor yang mau masuk ke tempat parkir pun harus antri. Daripada antri semua, mending bapak dan saya masuk duluan ke lokasi wisata, sementara suamik menunggu di mobil yang harus antri masuk area parkir. Jalan kaki mendekati komplek candi, saya menjadi ilfil :(. Selain karena terlalu ramai dengan orang yang berwisata, pihak pengelola juga mengundang grup musik dangdut. Saya nggak anti dengan musik dangdut, hanya rasanya kok tidak tepat ya. Apa iya, tempat wisata musti diisi dengan musik dangdut? Buat saya yang sebenarnya ingin menikmati suasana komplek candi dengan tenang, meskipun ramai wisatawan, ada musik dangdut ini jadi terasa mengganggu sekali >,<.

Harga tiket masuk ke area komplek candi adalah IDR7,500 untuk wisatawan lokal, dan IDR50,000 untuk wisatawan asing. Di dalam ternyata ada penawaran lagi untuk jasa naik kuda dan pemandu. Oh iya, sesuai namanya yaitu Gedong Songo, di komplek ini ada sembilan candi. Merupakan peninggalan kebudayaan Hindu, bentuknya mirip dengan komplek candi yang ada di dataran tinggi Dieng, Wonosobo. Di papan informasi kalau mau mengitari seluruh komplek dengan berjalan kaki, jarak tempuhnya sekitar 4 km. Hihihi, kasian bapak kalau harus menemani saya berkeliling. Akhirnya saya putuskan jalan sendiri saja dan hanya mengunjungi candi Gedong I, sementara bapak menunggu di dekat pintu komplek .




Haeeee...karena banyak orang, jadi nggak semangat ambil foto. Nanti yang kefoto malah orang-orangnya :D. Ya sudah, saya nggak ambil banyak foto. Cuma saya agak miris dengan yang foto-foto sambil naik-naik ke candi. Itu kan peninggalan kuno, sayang kalau diinjak-injak. Cukup dilihat saja dari jauh, berdiri di samping candinya jangan diinjak lalu ambil foto. Laaaah...jadi ngedumel XD.

Saya akui pemandangan di sekitar komplek candi bagus banget. Mungkin karena itulah banyak orang yang datang sekedar untuk bersantai. Bawa tikar dan bekal makanan dari rumah, atau menyewa di tempat penyewaan tikar dan jajan di warung yang ada. Hawa yang dingin, pemandangan yang menghijau, makanan yang enak, hahaha...lengkap sudah :D.



Saya nggak lama di komplek candi karena sebentar lagi waktu sholat Jumat tiba. Puas lihat-lihat, sambil berharap bisa kembali lagi kalau tidak liburan, saya pun keluar dari komplek candi. Sampai di tempat antri parkir, KuroInno sudah ada di antrian paling depan. Kami memutuskan untuk langsung cabut dan mencari mesjid untuk sholat Jumat. Turun ke arah Ambarawa, menemukan mesjid, langsung parkir dan menunggu untuk sholat Jumat.

Selesai sholat Jumat, kami mencoba ke danau Rawapening lagi. Mau coba makan siang di Resto Apung Kampoeng Rawa, tapi ternyata penuh sekali tempat parkirnya. Nggak jadi deeh, dan melanjutkan perjalanan ke arah Salatiga. Melewati kota Ambarawa dan hendak melihat Museum Kereta Api Ambarawa, sayangnya tutup :(. Cuma lihat dari pinggir jalan saja, beberapa lokomotif kuno yang menjadi koleksi museum. Nggak ambil foto karena cuma lewat doang :D.

Dari Ambarawa lanjut ke Salatiga lewat jalan kecil di tengah-tengah pedesaan. Melewati sumber mata air Muncul yang banyak dikunjungi orang untuk ritual padusan sebelum berpuasa. Sampai di Salatiga langsung ke pasarnya, untuk menikmati semangkuk wedang ronde...




Lumayaaaan, rasanya hangat banget di perut. Kali ini sedikit melanggar pantangan dari pak dokter, mestinya nggak boleh makan kacang tanah tapi godaan wedang ronde ini besar sekali. Kalau mochi di dalam wedang ronde, saya pikir moga-moga nggak apa, asalkan jangan kueh mochi Gemini atau teng-teng kacang cap 2 Hoolo asli Salatiga yang terkenal itu :).

Kami melanjutkan perjalanan kembali ke arah kota Semarang. Mampir dulu di stasiun kereta api Tuntang yang sekarang menjadi kawasan cagar budaya. Tentang stasiun kereta api Tuntang akan saya ceritakan terpisah. Lalu mampir makan siang yang sudah sangat telat di rumah makan Sate Sapi Pak Kempleng. Hahaha...karena saya sudah agak pusing dan lapar, maka foto makanan di rumah makan ini nggak ada. Yang jelas, sate dan gule sapinya enak. Layak untuk dicoba :).

Sudah kenyang, saatnya kembali ke rumah. Tepaaaar di mobil...tekluk-tekluk ngantuk :D. Jalan-jalan hari ini random banget pokoknya...Capek tapi senang. Hihihi...suamik yang nyetir sepanjang jalan, makasih sayang :*. Bapak juga mau diajak keliling-keliling, makasih ya paak...:)

Terima kasih sudah main ke sini dan membaca cerita ini.

Salam,

Dina




Kamis, 08 Agustus 2013

[RANDOM] Lebaran Hari Pertama, 8 Agustus 2013

Halo temans ^____^

Sekali lagi, Selamat Idul Fitri 1 Syawal 1434 H. Mohon maaf lahir dan batin ya....*salim temans satu-satu*

Eh eh, hari pertama Lebaran, makan apa dan keliling ke mana saja? 

Makanan yang pasti ada di setiap rumah : ketupat, opor ayam, sambel goreng kentang, rendang, dan telur pindang. Lebaran ini eyang nggak masak, tapi dapat kiriman dari keluarga, ada ketupat, opor ayam, sambel goreng krecek dan kentang, dan tape ketan. Alhamdulillaaah :). Muahaha, itu makanan kolesterolnya tinggi semua ya, setahun sekali nggak apa-apa deh :D

Buat yang akhirnya ketemu sama calon mertua, semoga cocok dan cepat melangkah ke tahap selanjutnya ya..:). Buat yang belum menemukan pasangan jiwa, terus bosen ditanya sama orang-orang yang super kepo, "kapan nikah?" (mengingatkan saya pada Lebaran beberapa tahun yang lalu), semoga cepat menemukan pasangan jiwa yang cocok. Buat yang pertama kali berlebaran bersama keluarga besar suami/istrinya, selamat menikmati indahnya kebersamaan meskipun ada perbedaan :). Buat yang nggak ke mana-mana di hari ini, pasti nonton film Warkop DKI :D. Apapun itu, mari kita menikmati liburan ini :)

Dina ke mana? Saya....main ke desa asal ibuk mertua almarhum. Di sana ada tante (adiknya ibuk) dan suaminya yang sekarang ini merawat rumah peninggalan eyang kakung dan putri. Rumah ibuk mertua ada di Desa Bakalan, kecamatan Dukuhseti, kabupaten Pati, Jawa Tengah. Letaknya kurang lebih 36 km sebelah utara kota Pati. Panas? Hohoho...pastinya :D

Dari Semarang, perjalanan menggunakan mobil makan waktu kurang lebih 2,5 jam. Berangkat habis makan ketupat dan teman-temannya. Sepanjang jalan melewati kota Demak, Kudus, dan Pati. Daerah yang saya lewati ini lumayan kering, karena letaknya di utara pulau Jawa. Rumah peninggalan eyang ini letaknya benar-benar di desa. Tidak jauh dari jalan utama desa, masih rumah tradisional yang besar dengan tanah yang luas dan sekitarnya dikelilingi sawah. Seingat saya, kalau malam melihat langit di desa ini, masih bisa melihat jelas ratusan bintang di langit :). Sayangnya kali ini saya tidak menginap, lain kali sepertinya harus menginap.

Desa Bakalan ini letaknya hampir di pinggir pantai, karenanya banyak penduduk yang mengusahakan tambak ikan bandeng. Selain ikan bandeng, bertani juga masih merupakan pekerjaan utama penduduk desa, meskipun banyak orang mudanya yang lebih memilih untuk mencari pekerjaan di kota besar. Sebagian petani juga menanam tebu di lahannya, karena ada pabrik gula Pakisbaru di kecamatan Tayu (bersebelahan dengan kecamatan Dukuhseti). Hihihi, jadi kayak mau bikin skripsi...:D




Dari rumah tante kami mampir ke rumah om (masih adiknya ibuk) di kecamatan Margoyoso. Kecamatan ini terkenal sebagai penghasil tepung tapioka. Tidak heran kalau lahan-lahan di pinggir jalan utama kecamatan lebih banyak ditanami pohon singkong. Hahaha, nggak sempat ngobrol banyak mengenai usaha pertepungan ini dengan si om. Mungkin lain kali bisa lebih menggali cerita tentang usaha ini.

Hahaha, kalau ngomongin pedesaan di Jawa Tengah ini, saya jadi ingat masa-masa kuliah. Dulu saya kuliah di Fakultas Pertanian, jadi sering membantu dosen mengumpulkan data petani di desa. Sepanjang jalan dari Demak ke Pati, jalanannya paralel dengan saluran irigasi sekunder (kalau nggak salah sik...). Hihihi, sedikit nostalgila karena dulu pernah mengumpulkan data petani pengguna saluran irigasi. Mulai dari hulu sampai hilir, dari yang mendapatkan air sepanjang tahun sampai yang hanya mendapat air hanya 1 musim tanam saja. Diiih, beneran kayak ngomongin skripsi :D. Pardon me...>,<

Naaaah, itu cerita hari pertama lebaran saya, yang saya tulis karena lagi pengen banget menulis (di sebelah saya, suamik juga sedang menulis paper). Ini sebenarnya mau liburan atau bagaimana sik? 

Bonus foto rumah tante di desa Bakalan :)






Terima kasih sudah main ke sini dan membaca cerita ini :)

Salam,

Dina